//
you're reading...
CasCIscUS

Mudik tahun ini

Rasanya lelah ini belum hilang benar, walaupun sudah tidur selama kurang lebih dua jam. Lelah hasil dari mudik kemarin.
Sehari yang lalu, tepatnya tanggal 26/08/2010, tepat jam 13.30 wib saya bersama istri memulai perjalanan mudik dengan menggunakan taksi dari daerah Jurangmangu timur, Pondok aren. Karena istri sedang hamil tua (9 bulanan-red), tranportasi yang kami pilih pun yang nyaman buat bumil (ibu hamil) yaitu kereta eksekutif gajayana yang berangkat dari stasiun gambir. dan untuk mencapai ke gambir, masih harus naik taksi.  Sebenernya saya ingin mencari taksi Express yang menurut saya lebih murah tarifnya dan pelayanan tidak mengecewakan, tapi karena memang jarang nongol di jalan sekita ceger, ya sudah akhirnya dipilih yang ada aja, apalagi kalo bukan si burung biru “Bluebird”.
Perjalanan mudik dimulai.
Di perjalanan menuju gambir, kami di hadang macet yang agak parah di jalan Jend. Soedirman setelah Gelora bung Karno. Akhirnya kami harus mencari jalan alternatif dari pada harus terjebak macet yang lebih parah lagi. dan pilihan alternatif tersebut adalah lewat Manggarai – tugu tani – dan Gambir. Kami pun sampai di stasiun sekita pukul tiga sore. Padahal, jadwal keberangkatan kereta Gajayana adalah pukul 17.30. Ya, mau tidak mau kami pun harus menunggu sekitar dua setengah jam. Memang kami berangkat jauh-jauh sebelum keberangkatan untuk mengantisipasi kemacetan yang sudah jamak terjadi di ibukota negara ini. Konon, Jakarta menjadi salah satu kota dengan kemacetan terparah di dunia dan memiliki tingkat polusi udara terburuk nomor tiga dunia setelah Meksiko city dan Bangkok.
Pukul 17.30 wib, kereta berangkat.
Terus terang, saya baru pertama kali naik kereta eksekutif Gajayana ini. Dilihat dari interior -lebih mirip interior di dalam sebuah pesawat-, Gajayana memang kelihatan ekslusif. Kursi duduk dibuat 2-2 menghadap ke depan semua. Sebelum masuk, para penumpang disambut oleh awak kereta yang berpakaian rapi-rapi. Mereka melayani penumpang yang rata-rata menanyakan nomor gerbong berapa sesuai tempat duduk mereka dengan ramah. Dan di setiap gerbong, terdapat layar kaca sekitar 27 inchi yang menampilkan display sebuah tivi kabel: Katv. Fasilitas lainnya adalah ruang ber AC dan juga fasilitas selimut yang diberikan secara gratis. Memang untuk fasilitas makanan, sekarang tidak lagi diberikan cuma-cuma seperti dulu, tetapi kita bisa memesan kepada awak kereta yang lalu-lalang menjajakannya kepada para penumpang. Kemarin istri sempat memesan sepiring nasi goreng dan teh hangat dengan harga 25 ribu rupiah. Sebuah harga yang cukup “wah”, sekelas harga restoran di mall2 dengan menu serupa. tapi, secara keseluruhan fasilitas yang diberikan lumayan nyaman dan patut saya acungi jempol.
Kondisi ini memang sangat kontras kalo dibandingkan dengan fasilitas kereta ekonomi seperti kereta brantas. Dulu, saya sering (kalo ga boleh dikatakan hampir selalu) menggunakan kereta ini kalo lagi pulang kampung. Fasilitas yang diberikan sangat kontras, mulai dari interior, fasililitas, kebersihan, non AC, jadwal yang molor, bising dengan penjual-penjual yang hilir mudik dan bebas keluar masuk gerbong. satu-satunya alasan kami (saya dan teman2) waktu itu adalah masalah harga. selisihnya sih lumayan juga, seper enam dari harga tiket gajayana. tapi itu dulu, beberapa tahun lalu. namun ga ada salahnya kalo suatu saat nanti mencobanya lagi untuk bernostalgia.
Kira-kira pukul sepuluh malam, kami sampai di stasiun Purwokerto. Secara keseluruhan rite persinggahan kereta Gajayana dari stasiun gambir adalah: stasiun Gambir- stasiun Purwokerto- stasiun Jogjakarta- stasiun Solobalapan- stasiun Madiun- stasiun Kertosono – stasiun Kediri – dan berakhir di stasiun Malang kota. Walaupun sempat macet lama sekitar 40 menit di stasiun madiun, perjalanan kami tergolong lancar. Akhirnya kami sampai di stasiun Kediri sekitar pukul enam. Itu artinya: bisa lihat tugu simpang lima gumul lagi….
Dan perjalan ke rumah pun harus dilanjutkan dengan menggunakan becak dan mikrolet.
Sungguh perjalanan yang panjang dan melelahkan. tapi, ini masih di dunia belom lagi nanti kalo di akherat, tentu lebih melelahkan lagi.
Advertisements

About bung_roy

Seseorang yang sedang mengejar mimpi2 nya. Dan berusaha keras agar mimpi2 tersebut menjadi kenyataan. Berharap suatu saat bisa berhaji dengan bapak-ibu dan istri. Serta punya ambisi untuk bisa menginjakkan kaki pertama di Mekkah sebelum kota2 lain di LN. Mimpi2 yang lain adalah bisa menulis sebuah buku (tapi tentang apa belum tahu, hehe…) dan juga punya usaha di bidang kuliner/ punya semacam butik (kalau yang ini mimpi istri ) atau jenis bisnis lainnya. Dan ingin sekali resign dari pekerjaan setelah itu. Kini sedang berikhtiar serta menunggu doa2 nya diijabah oleh Allah. Aamiin!

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Pulang Kampung « Roy Mahendra Blog - 06/11/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: