//
you're reading...
Anda Sebaiknya Baca

Pertanyaan Lebih Penting daripada Jawaban

Berikut cuplikan opini Djohansjah Marzoeki, guru besar (LB) Unair betapa pentingnya bertanya…

Pertanyaan Lebih Penting daripada Jawaban

Saya pernah membaca tulisan Einstein: ”Pertanyaan lebih penting dari jawaban. Jawaban itu akan selalu ada di dunia ini kalau kita mau bertanya. Kita tidak akan menemukan apa-apa kalau kita tidak pernah bertanya.”

Begitulah kata ilmuwan hebat itu. Tentu, pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan yang rasional, yang riil, yang material, atau dengan kata lain yang ilmiah. Karena itu, saya pikir dia bisa begitu hebat karena pertanyaan yang selalu timbul di benaknya adalah pertanyaan hebat.

Lalu, saya baca tulisan Louis Pasteur. ”Chance favors only prepared mind.” Kesempatan itu hanya untuk pikiran yang siap.

Ucapan Einstein dan Pasteur tersebut amat penting bagi kita untuk mengerti bagaimana kita harus melangkah, mencari hari depan, berkarya untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Tapi, apa yang akan Anda tanyakan? Kalau pertanyaannya kecil, jawaban yang bakal ketemu ya yang kecil. Kalau pertanyaannya merusak alias destruktif, jawaban yang ketemu ya destruktif. Sebaliknya, kalau pertanyaannya besar dan membangun (konstruktif), akan ketemu yang besar dan konstruktif.

Lalu, apa itu prepared mind? Pikiran yang siap? Derajat kesiapan pikiran didapat dengan pendidikan, latihan, dan pengalaman lingkungan. Jadi, dengan pendidikan, latihan, serta pengalaman, akan bisa lahir bermacam-macam pertanyaan yang menarik perhatian pikiran kita masing-masing.

Pertanyaan sederhana misalnya, bagaimana menjadi kaya secara fair, tidak dengan cara korupsi, tidak ngemplang, dan tidak menjegal orang lain. Para pemimpin akan bertanya apa yang bisa dilakukan untuk warganya, untuk bangsanya. Bagaimana mengurangi kemiskinan, menambah kemampuan bangsanya.

Prof Muh.Yunus dari Bangladesh yang baru datang ke Bali bertanya seperti itu untuk kepentingan perempuan Bangladesh. Lalu, dia menemukan caranya dan kini dia menyandang hadiah Nobel untuk itu.

Kalau kita masing-masing mau bertanya satu pertanyaan saja untuk kesejahteraan sendiri, bakal ada 350 pertanyaan dalam setahun untuk diri sendiri dan satu pertanyaan lain untuk kesejahteran orang lain atau bangsanya, yang semua konstruktif. Maka, ada 350 pertanyaan untuk bangsanya dalam setahun per orang.

Kalau sepersepuluh (10 persen) saja di antara 200 juta bangsa ini berbuat yang sama, maka akan ada 350 x 20 juta = 6.000 juta atau 6 miliar pertanyaan konstruktif yang timbul untuk bangsa. Angka yang aduhai bagi pembangunan bangsa dan negara. Semakin banyak pertanyaan yang timbul akan semakin banyak pula kemungkinan yang bisa ditemukan, walaupun tidak semua.

Namun, kalau pertanyaan yang timbul adalah pertanyaan yang destruktif, merusak, seperti bagaimana menakut-nakuti orang, bagaimana memaksa orang, membatasi orang untuk berpendapat, bagaimana merusak reputasi orang, ngemplang utang, bagaimana korupsi, bagaimana nenyembunyikan penyalahgunaan wewenang, bila jawabannya ketemu, kita akan terpuruk. Kita akan terbelakang. Kerusakan saja yang ada. Jangan harap kita bakal keluar dari kemiskinan, keluar dari keterbelakangan, apalagi menjadi leader of the world. Kita paling-paling jadi leader of the criminals. Jadi tokoh penjahat!

Waktu dan harta negara habis terkuras, bahkan minta dibantu negara lain untuk memerangi kejahatan yang berkecamuk di negara ini.

Untuk kepentingan bangsa, para pemimpin, anggota DPR, bupati, wali kota, gubernur, menteri, dan presiden mempunyai kesempatan lebih mudah daripada orang awan untuk menemukan jawaban pertanyaannya. Karena itu, baik-baiklah memilih mereka. Bisakah menebak, pikiran apa kiranya yang akan mereka tanya bila mereka itu menjabat?

Betapa menyedihkannya bila mempunyai pemimpin yang tidak pernah bertanya konstruktif untuk tugas yang diemban, diam seribu bahasa, atau yang timbul justru pertanyaan yang destruktif.

Antara pejabat dan massanya pastilah ada pengaruh timbal balik. Kalau prepared mind massa tinggi, mereka akan memilih pemimpin dengan kualitas lebih tinggi. Begitu pula bila pemimpinnya berkualitas tinggi, dia akan membawa massa dalam wewenangnya ke taraf yang tinggi. Seperti lingkaran rantai tertutup antara massa dengan pemimpinnya. Sekali berengsek, terus berputar tambah berengsek. Tapi, sekali bagus akan terus berputar bertambah bagus. Karena itu, jangan salah memilih yang berengsek, yang merendahkan mutu mata rantai.

Saya hanya berharap kepada semua orang, apakah pejabat atau bukan, mari kita berlatih bertanya yang konstruktif dan baik bagi diri kita sendiri maupun bangsa.

Apa yang disebut konstruktif dan baik? Yang konstruktif itu adalah ikut dalil yang rasional. Benar, berguna, dan penting. Baik? Itu ikut prinsip perikemanusiaan di bawah HAM (hak asasi manusia), right to live, right to have freedom, serta right to pursue happiness (hak hidup, hak memperoleh kebebasan, dan hak mencari kebahagiaan).

Prinsip HAM berada di atas semua prinsip yang ada. Kalau melawan HAM, pasti jelek, pasti tidak baik. Moral? Pakai moral universal, yaitu tidak membuat orang lain atau binatang menderita, tapi justru mengurangi penderitaan.

Kalau prinsip itu yang dipakai dalam bertanya untuk mengangkat derajat bangsa, hari depan kita akan cerah, maju, modern, sejahtera, aman, dan damai.

 

Lho kok mimpi? Ya, sesuatu rencana dimulai dengan mimpi, vision. Mimpi yang rasional. Mimpi saja tidak cukup, tapi diteruskan dengan usaha yang ulet dan tidak mudah menyerah. Orang ulet umumnya tidak minta banyak syarat dan tidak cengeng.

Nah, di sini lagi prepared mind mengambil peran. Bukan hanya pertanyaan untuk kesejahteraan diri sendiri yang bisa dicari dan dikerjakan oleh diri sendiri, tapi bahkan yang untuk bangsa pun dapat dilakukan seorang diri. Bisa pula bersama teman yang sevisi maupun oleh institusi sampai oleh negara. Nah, pilih tempat Anda dalam membangun bangsa dan negara kita.

#artikel dari milist intranet kantor (bl tobing).

Advertisements

About bung_roy

Seseorang yang sedang mengejar mimpi2 nya. Dan berusaha keras agar mimpi2 tersebut menjadi kenyataan. Berharap suatu saat bisa berhaji dengan bapak-ibu dan istri. Serta punya ambisi untuk bisa menginjakkan kaki pertama di Mekkah sebelum kota2 lain di LN. Mimpi2 yang lain adalah bisa menulis sebuah buku (tapi tentang apa belum tahu, hehe…) dan juga punya usaha di bidang kuliner/ punya semacam butik (kalau yang ini mimpi istri ) atau jenis bisnis lainnya. Dan ingin sekali resign dari pekerjaan setelah itu. Kini sedang berikhtiar serta menunggu doa2 nya diijabah oleh Allah. Aamiin!

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: