//
you're reading...
CasCIscUS

Dalam diam ada nasehat

Seperti biasanya, halte bis ‘pertanian’ di bilangan jalan Salemba berseberangan jalan dengan kampus UI kedokteran, pada pagi hari kecuali hari minggu, selalu ramai. Silih berganti orang datang-pergi. Mereka terlihat sibuk seakan-akan mempunyai urusan masing-masing yang tidak ada habis-habisnya untuk diselesaikan. Mereka adalah komunitas para penunggu angkutan umum ibukota yang hendak pergi ke tempat biasanya mereka menghabiskan waktu mereka sepanjang hari. Termasuk aku.

Sebagian mereka tampak berpakaian sangat rapi. Para laki-lakinya memakai baju hem dan celana warna gelap lengkap dengan sepatu pantovelnya. Sedangkan perempuannya tak mau kalah. Mereka memakai baju hem, pressbody, ketat, rok mini atau memakai celana panjang. Kalaupun ada yang memakai jilbab, biasanya ujung jilbab itu masuk ke dalam kerah bajunya dan berakhir di balik bajunya. Bisa ditebak, mereka adalah para pegawai kantoran yang biasa masuk kantor pada pukul 08.00 dan baru berakhir pukul 17.00.

Kelompok selanjutnya datang dari golongan yang lebih muda. Pakaian mereka lebih unformal. Sepatu kets, kaos oblong, celana jeans, dan kadang bertopi. Ceweknya tidak jauh beda dari mereka. Sebagian berjilbab seadanya, kelihatan agak gaul, mungkin untuk menyesuaikan dengan kelompoknya. Mereka tampak bergerombol, bercanda, tertawa, bersama. Seolah-olah tak ada persoalan yang bisa mengganggu ’kebersamaan mereka’, tidak juga manusia di sekeliling mereka. Ya, mereka adalah para mahasiswa. Memang di sekitar situ bercokol beberapa perguruan tinggi. BSI, UKI, ataupun UPI YAI [Universitas Persada Indonesia-Yayasan Administrasi Indonesia] yang memang salah satu kampusnya berada pada di balik halte bis itu, gedung berlantai tujuh. Berasal dari sanalah sebagian besar mahasiswa itu. Tapi mereka bukan mahasiswa kedokteran UI.

Berbeda. Mahasiswa UI_Salemba umumnya berwajah serius, kalau berjalan agak tergesa-gesa, sering mereka membawa tas laptop ataupun sebuah kotak yang aku duga berisi beberapa alat praktek kedokteran. Cara berpakaian mereka tidak mengikuti trend mahasiswa yang pertama tadi. Bahkan sebagian perempuannya memakai jilbab lebar[pakaian kebesaran]. Namun, itulah mereka. [maaf kalo salah]

Kelompok selebihnya berarti yang lainnya. Diantaranya para tukang ojek yang senantiasa sabar menunggu penumpang dengan duduk-duduk bergerombol bersama temannya di belakang barisan motor mereka, ada juga penjual koran yang setiap pagi ketika aku berangkat selalu sudah standby di perempatan jalan tak jauh dari halte itu. Ada juga para pedagang trotoar dengan toko supermininya yang biasa menjual aneka minuman kemasan, rokok, dan berbagai barang kecil lainnya.

Tapi itu semua sudah biasa. Ada sesosok pribadi yang membeda menurutku. Luput dari perhatian orang-orang sekitar, tapi tidak denganku. Sesosok ini telah menyihirku, menyita sebagian perhatianku. Demi memperhatikan sesosok yang satu ini, aku jadi termenung sendiri. Sesosok itu selalu hadir di dekat halte itu, setiap pagi. Aku selalu melihatnya kalau pas kebetulan berangkatku jam tujuh pagi, selebihnya tidak. Sesosok satu ini memang berbeda, kontras dengan orang-orang di halte itu. Dari pakaiannya, berbeda, lebih tampak ’seadanya’, lusuh dan selalu itu yang sering aku lihat, sederhana sekali kawan!. Rambutnya panjang hampir sebahu diikatat dengan karet kemudian ditutupi oleh topi bundar hitam, seperti topi tentara yang sedang kerja bakti, yang selalu dipakainya dan hampir menutupi setengah wajahnya. Dia kelihatan cuek, tak peduli dengan sekelilingnya, asyik melakukan aktivitasnya, diam tak berkata-kata seakan dia ada di tengah gurun pasir/ di tengah hutan dan hanya ada dirinya sendiri dan gerobaknya saja disitu. Dia tidak sadar kalau ada sepasang mata setidaknya sedang mengamati dirinya. Kawan ….. sesosok itu adalah pengantar es balok keliling.

Dalam beraktivitas, dia selalu ditemani oleh gerobak es nya, seperti becak tetapi rangka badanya terbuat dari seng yang kokoh, dan pisau gergajinya yang besar dan bertugas mematahkan balokan es yang sebesar pohon itu menjadi beberapa potong yang lebih kecil sehingga mudah untuk di angkut. Memang, setiap pagi dia selalu mengatar potongan es balok itu ke tempat penjual minuman di pinggir trotoar di sepanjang jalan. Setiap pagi dia datang di tempat itu, memotong es, kemudian mengangkatnya dan di letakkannya di atas trotoar kemudian dia pergi.

Demi diamnya itu, aku bertanya-tanya sendiri dalam pikiranku. Berapa penghasilannya sehari? Apakah cukup ia membiayai hidup sehari-hari? Bagaimana kalau suatu saat dia sakit? Pertanyaan nakal yang seolah-olah melecehkannya, padahal ia bisa bertahan sampai saat ini.

Dari diamnya itu aku jadi mengambil nasehat. Aku jadi teringat nasehat guruku dulu. Kalau untuk urusan dunia kamu harus melihat ke bawah, tetapi kalau urusan akherat lihatlah ke atas, jangan sampai kebalik!

Terima kasih kawan! Karena dari diam mu, ada nasehat.

# mengenang tulisan awal2 waktu tinggal di daerah Salemba, saat sedang magang di Kanpus

[240607-09:12]

Advertisements

About bung_roy

Seseorang yang sedang mengejar mimpi2 nya. Dan berusaha keras agar mimpi2 tersebut menjadi kenyataan. Berharap suatu saat bisa berhaji dengan bapak-ibu dan istri. Serta punya ambisi untuk bisa menginjakkan kaki pertama di Mekkah sebelum kota2 lain di LN. Mimpi2 yang lain adalah bisa menulis sebuah buku (tapi tentang apa belum tahu, hehe…) dan juga punya usaha di bidang kuliner/ punya semacam butik (kalau yang ini mimpi istri ) atau jenis bisnis lainnya. Kini sedang berikhtiar serta menunggu doa2 nya diijabah oleh Allah. Aamiin!

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: